← Kembali

Romansa · Pancoran · 4 menit

Roti Bakar Pukul 11 Malam

Gerobak roti bakar Mas Iwan di pojokan Pancoran buka pukul tujuh malam sampai pukul dua dini hari. Sudah delapan tahun di tempat yang sama. Pelanggannya sebagian besar pengemudi taksi, ojek pangkalan, pegawai shift malam dari pabrik di Cawang, dan — sejak enam bulan lalu — saya.

Saya pertama datang ke Mas Iwan secara tidak sengaja. Pulang dari kantor pukul setengah sebelas malam, motor saya kehabisan bensin di Pancoran. Saya dorong ke pinggir jalan, mencari pom bensin. Tidak ada. Yang ada cuma gerobak roti bakar dengan lampu kuning kuningnya.

Saya beli roti bakar coklat keju. Dua puluh ribu, plus es teh manis lima ribu. Total dua puluh lima. Sambil makan, saya duduk di kursi plastik biru milik Mas Iwan. Roti bakar pertama saya sejak SMA.

Mas Iwan, 35-an, kurus, kacamata yang patah engselnya disambung pakai lakban kuning. Bicaranya sedikit. Saat saya bayar, dia bilang “terima kasih, Mas” dengan nada yang tidak basa-basi tapi juga tidak datar — nada orang yang berterima kasih, tapi sudah ratusan kali setiap minggu.


Malam itu juga, saya pulang ke kos. Tapi besok malamnya, saya lewat Pancoran lagi. Bukan karena rute pulang biasa saya — biasanya saya lewat Mampang. Saya sengaja ambil rute lewat Pancoran.

Saya beli roti bakar lagi. Sambil makan, saya menatap gerakan Mas Iwan: pukul mentega ke roti, bakar di teflon, taburi coklat, tambahkan keju parut, balik, panaskan satu sisi lagi, potong empat. Empat menit per roti. Sudah refleks. Bukan pemikiran lagi.

Malam ketiga, saya datang lagi. Mas Iwan mengangguk seolah dia sudah hafal saya.

“Mas, mau yang biasa?”

“Iya, Mas. Coklat keju.”

“OK.”

Itu obrolan kami yang paling panjang dalam tiga minggu pertama. Saya datang setiap malam. Saya pesan yang sama. Saya bayar. Saya pulang.


Saya tidak tahu kapan saya mulai jatuh cinta. Saya tidak yakin “jatuh cinta” itu kata yang tepat. Mungkin lebih akurat: saya mulai merasa, di antara semua orang yang saya temui di Jakarta — bos, kolega, tetangga kos, kasir Indomaret, abang Gojek, semua orang yang minta saya bertindak atau merespons — Mas Iwan adalah satu-satunya orang yang tidak meminta apa pun dari saya. Hanya dua puluh ribu untuk roti bakar.

Saya datang ke Mas Iwan untuk diam.

Malam ke-empat puluh dua (saya hitung di buku catatan saya, ya, ini agak obsesif), saya datang lebih awal dari biasanya, pukul setengah sepuluh. Hujan deras. Saya basah seluruh baju. Mas Iwan sedang setting kompor dengan tutup payung kecil.

“Mas, kuyup banget.”

“Iya, Mas.”

“Tunggu, saya kasih handuk.”

Dia mengambil handuk kecil dari tas plastik di samping gerobak. Handuk yang sudah dia siapkan untuk dirinya sendiri kalau-kalau lebih basah. Dia berikan ke saya tanpa drama.

Saya menerima. Saya mengusap muka. Saya menatap Mas Iwan beberapa detik, dan saya menyadari, untuk pertama kalinya: dia hanya enam belas tahun lebih muda dari ayah saya, tapi dengan ekspresi yang sama — orang yang menyiapkan handuk untuk pelanggan tanpa diminta.

Saya tidak romantically jatuh cinta. Saya tidak ingin pacaran Mas Iwan. Tapi saya jatuh cinta dengan kebiasaan datang ke gerobaknya. Saya jatuh cinta dengan ritus dua puluh ribu dan empat menit yang sama setiap malam.

Saya jatuh cinta dengan satu titik di Jakarta yang tidak meminta saya membuktikan apa pun.


Malam keenam puluh, saya akhirnya bertanya: “Mas, hari Senin libur gak?”

“Senin libur, Mas. Saya istri sakit, perlu antar ke dokter.”

Saya mengangguk. “Hari Selasa buka lagi?”

“Insyaallah.”

Saya pulang. Senin malam, saya tidak punya alasan untuk lewat Pancoran. Saya pulang lewat Mampang, jalur normal saya. Saya merasa hilang.


Sekarang sudah delapan bulan saya jadi pelanggan Mas Iwan. Roti bakarnya sudah hafal saya pesan: coklat keju, kadang ditambah pisang. Mas Iwan sudah hafal kalau saya datang lebih lama dari pukul dua belas, saya sedang dalam hari yang berat. Dia tidak menanyakan, tapi dia tambah keju lebih banyak dari biasanya, tanpa minta tambahan biaya.

Saya pacaran dengan kebiasaan ini sekarang. Saya tahu suatu hari Mas Iwan akan pensiun, atau pindah, atau gerobak ini ditertibkan oleh pemkot. Saya akan kehilangan ritus dua puluh ribu malam saya.

Kalau hari itu tiba, saya akan ingat Mas Iwan, gerobak biru, kursi plastik, dan handuk kecil di malam ke-empat puluh dua.

Untuk sekarang, malam ini, saya pulang ke kos dengan roti bakar yang masih hangat di tangan saya dan pikiran yang sedikit lebih tenang dari saat saya berangkat dari kantor tadi.


— Pancoran, 28 Mei 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Romansa →