← Kembali

Romansa · Jalan Sabang · 4 menit

Sate Sabang, Pukul Sebelas Malam

Setiap Jumat pukul sebelas malam, saya menunggu Rino di kursi plastik depan warung Sate Pak Salim di Jalan Sabang. Selalu kursi yang sama — yang ketiga dari ujung, menghadap jalan. Pak Salim sudah hafal. Kalau saya datang duluan, dia langsung kirim teh tawar hangat tanpa saya pesan. Kalau Rino yang duluan, Pak Salim tidak mengirim apa-apa. Rino lebih sabar.

Kami janjian setiap Jumat selama tiga tahun. Tidak ada pernyataan resmi tentangnya — tidak ada yang bilang, “Yuk, kita jadiin ini ritual mingguan.” Tetapi setelah Jumat ketiga, kami sama-sama tahu bahwa kalau salah satu tidak datang, yang lain akan datang tetap, dan akan duduk, dan akan menunggu.

Rino kerja di rumah sakit di Karang Tengah. Saya kerja di kantor di Sudirman. Kami berdua butuh waktu yang sama — sekitar empat puluh menit — untuk sampai Sabang. Kami berdua menganggap empat puluh menit itu adalah harga yang masuk akal untuk bertemu seseorang yang sudah dikenal selama dua belas tahun, sejak kuliah, dan yang tidak akan kami tinggal pergi meskipun banyak yang lain sudah pergi.


Yang kami obrolkan di Sabang biasanya tidak penting. Drama internal kantor saya — orang yang menyebalkan, deadline yang tidak masuk akal, bos yang merangkap mertua dari teman kuliah. Rino mendengarkan dengan ekspresi datar yang dia kembangkan setelah lima tahun jadi perawat ICU. Tidak menghakimi, tidak terlalu simpati. Hanya hadir.

Sebaliknya, Rino bercerita tentang pasien-pasiennya. Bukan secara klinis — secara manusia. Pasien bapak tua yang minta diputarkan lagu Koes Plus sebelum operasi. Anak kecil yang tidak takut suntik karena ibunya pernah jadi suster. Ibu hamil yang baru sadar bayinya laki-laki setelah operasi sectio, dan dia menangis karena dia tadinya sudah beli semua baju merah jambu.

Kami tidak pernah berpegangan tangan. Kami tidak pernah bilang sayang. Tapi setiap Jumat pukul satu pagi, ketika warung mulai sepi dan Pak Salim mulai merapikan kursi, kami akan berjalan beriringan ke parkiran motor di gang sebelah, dan kami akan saling memandang sebentar sebelum pulang ke arah yang berlawanan.

Satu kali, di tahun kedua, saya bertanya, “Rin, kita ini apa, ya?”

Dia berpikir lama sekali. Lalu menjawab, “Kita ini Jumat malam di Sabang.”

Saya mengangguk. Dia mengangguk. Tidak ada pembicaraan lanjutan.


Jumat ketiga bulan Mei, Rino tidak datang. Saya menunggu sampai pukul dua belas tiga puluh. Pak Salim mengirim teh kedua, tanpa saya minta. Saya buka WhatsApp — pesan terakhir saya ke Rino dua hari lalu, sebuah meme tentang kucing yang dia balas dengan “Lol.” Saya panggil, masuk voicemail.

Saya pulang pukul satu, jalan agak limbung, marah pada diri sendiri karena marah pada sesuatu yang bahkan tidak punya nama resmi.

Senin, saya tahu dari Instagram. Bukan dari Instagram Rino — Instagram adiknya. Sebuah foto Rino dari beberapa tahun lalu, hitam-putih, dengan caption pendek: Selamat jalan, Mas. Doa terbaik dari kami.

Bus yang dia tumpangi pulang dari Karang Tengah ke kontrakannya di Cipulir mengalami kecelakaan. Tepat hari Jumat, sekitar pukul sembilan malam.

Kalau dia bertahan dua jam lagi, dia mungkin akan sampai di Sabang, di kursi yang ketiga dari ujung, menghadap jalan.


Jumat berikutnya, saya datang lagi ke Sabang. Tidak tahu kenapa. Atau mungkin saya tahu kenapa. Pak Salim melihat saya dan tidak mengirim teh. Dia hanya berdiri di depan kompor, mengangguk pelan, lalu kembali membakar sate.

Saya duduk di kursi yang sama. Saya pesan sepuluh tusuk sate kambing dan teh tawar. Saya makan pelan. Saya memandang jalan. Lampu jalan Sabang malam itu redup karena salah satu rusak.

Saya pulang pukul satu.

Saya datang lagi minggu berikutnya. Dan minggu berikutnya.

Sekarang, dua tahun kemudian, saya masih datang setiap Jumat. Pak Salim sudah hafal lagi. Kursi ketiga dari ujung, teh tawar tanpa diminta, sate kambing sepuluh tusuk.

Dia tidak pernah tanya saya kenapa saya datang sendiri sekarang. Dia hanya membakar sate, mengangguk, dan kadang-kadang, kalau warung sepi, dia akan duduk di kursi sebelah saya sebentar — bukan untuk ngobrol, hanya untuk hadir, seperti yang dulu Rino lakukan.

Kami semua mengingat dengan cara kami sendiri.


— Jalan Sabang, 26 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Romansa →