Single-Origin di SCBD
17 Mei 2026 · 660 kata
Pukul setengah delapan pagi, Bayu masuk kafe specialty di Pacific Place, SCBD. Dia mengeluarkan kartu BCA. Dia menatap menu. Menu di kafe ini ditulis dengan tangan pakai chalk marker, di papan kayu, dengan istilah-istilah yang dia setengah mengerti: Gesha · Washed · Notes: berries, jasmine, marshmallow.
Bayu memesan Gesha v60 dengan suara percaya diri.
“Mau ditambah ice atau hot, sir?”
“Hot.”
“Mau diseduh ke-95 atau ke-92 derajat?”
Bayu terdiam dua detik. Lalu menjawab, “Yang biasa aja.”
Barista — perempuan dua puluhan, tato di pergelangan, rambut diikat dengan bandana — tersenyum tipis. “Default kita 92 ya, sir. Lebih bring out the floral notes.”
“Iya, itu aja.”
“Tujuh puluh delapan ribu, sir.”
Bayu duduk di meja samping jendela. Dia menyalakan laptop. Dia membuka Slack. Dia membuka calendar — tiga meeting hari ini, semua jam-jam aneh, dua dengan tim Singapura, satu dengan klien yang nada email-nya selalu pasif-agresif.
Kopi tiba lima menit kemudian. V60 yang diseduh di depan dia — barista membuat acara dari proses penuangan air panas, dengan stop watch, dengan timbangan presisi. Setelah selesai, dia berkata, “Enjoy your Gesha, sir. Notes blueberry hari ini agak strong karena beans-nya baru landed minggu lalu.”
Bayu mengangguk dengan ekspresi seorang yang tahu apa itu Gesha.
Kebenaran: Bayu tidak tahu apa itu Gesha. Bayu juga tidak bisa membedakan notes blueberry dari notes apa pun. Bayu, kalau jujur pada dirinya, tidak bisa membedakan kopi premium ini dari kopi sachet yang dia minum jam tiga sore di pantry kantor.
Dia menyeruput. Pahit. Sedikit asam. Hangat.
“Hmm,” dia berkata dalam hatinya, “mungkin ini yang dimaksud blueberry. Asam-asam kayak buah.”
Atau mungkin enggak. Bayu tidak tahu.
Dua belas menit kemudian, kopi sudah dingin. Bayu masih di Slack. Klien pasif-agresifnya baru saja kirim email lagi, kali ini dengan tone yang sudah lewat dari pasif-agresif, sudah agresif-agresif. Bayu menutup laptop sebentar, menyeruput kopinya yang sudah dingin, dan menatap keluar jendela.
Di luar, pejalan kaki SCBD — pekerja kantoran dengan tas selempang dari Mansur Gavriel atau brand yang namanya susah dieja — semua berjalan dengan cepat. Tujuannya jelas: lobby gedung, lift, lantai dua puluh, kursi.
Bayu memikirkan tentang ayahnya. Ayahnya pensiunan PNS, sekarang tinggal di Sukabumi, masih bangun pukul lima setiap pagi untuk menyeduh kopi tubruk sendiri. Ayahnya beli kopi di pasar dekat rumah, bukan kopi single-origin, hanya kopi yang dijual per kilo dengan label yang tidak lebih informatif daripada “Robusta.” Ayahnya tidak tahu apa itu Gesha. Ayahnya tidak tahu apa itu washed atau natural. Ayahnya hanya tahu kopinya enak — pahit, hangat, dan menemani dia membaca koran selama tiga puluh menit setiap pagi.
Bayu menyadari — terlambat, dengan kopi seharga 78 ribu yang sudah dingin di tangannya — bahwa dia membayar 78 ribu bukan untuk kopi. Dia membayar untuk ide tentang dirinya sebagai orang yang mengerti kopi.
Dia mengeluarkan HP. Dia membuka WhatsApp. Dia mengirim pesan ke ayahnya:
Pak, kapan-kapan saya pulang ya. Saya kangen kopi tubruk yang Bapak bikin.
Ayahnya membalas dalam dua menit:
Iya kapan-kapan. Tapi sok-sokan datangnya yang penting, jangan bilang kangen kopi terus malah gak datang.
Bayu tersenyum. Dia menutup HP-nya. Dia membuka laptop lagi. Dia menulis balasan ke klien pasif-agresifnya — bukan dengan tone yang professional, juga bukan dengan tone yang servile. Dengan tone yang jelas: “Pak, ini detail kerjaan. Kita perlu klarifikasi sebelum saya bisa lanjut.”
Dia mengirim email. Klien itu balas tiga menit kemudian, dengan tone yang tiba-tiba sopan.
Bayu menyeruput kopinya yang sudah benar-benar dingin. Pahit. Bukan blueberry. Bukan jasmine. Bukan apa-apa. Hanya kopi.
Dia membayar 78 ribu untuk pelajaran ini. Mahal, tapi mungkin worth it.
Pukul tujuh malam hari itu, dia keluar dari kantor. Dia tidak ke Pacific Place lagi. Dia jalan tiga blok ke warung kopi tubruk di samping gedung Lippo Mall Kuningan — warung lama, tutup-buka tidak jelas, dimiliki pak tua yang menyeduh kopi pake gelas plastik bening. Bayu pesan satu. Lima ribu rupiah.
Dia menyeruput. Pahit. Hangat. Enak.
Notes-nya tidak penting.
— SCBD, 17 Mei 2026