Pesan WA Yang Tidak Terkirim
26 Juni 2026 · 562 kata
Rara duduk di balkon apartemennya di Senopati, lantai sebelas, menghadap jalan yang masih ramai pukul sebelas malam. Lampu Plaza Senayan masih menyala di kejauhan. Klakson sesekali. Dia memegang HP — iPhone yang layar atasnya retak sejak Februari.
Dia membuka chat dengan Galang. Chat terakhir mereka: 14 November tahun lalu. Galang menulis “ok.” Titik. Itu saja.
Tujuh bulan kemudian, Rara mengetik balasan.
Lang, gw lagi di balkon. Kamu udah tidur?
Dia menatap kalimat itu lima detik. Dia menghapusnya.
Drafnya yang kedua lebih panjang. Lang, gw tau kita udah selesai. Tapi tadi gw lewat warung sate Pak Tugino di Senopati 47, yang dulu sering kita — Dia berhenti. Dia menghapus seluruhnya.
Drafnya yang ketiga cuma satu kata. Lang.
Dihapus.
Drafnya yang keempat — yang dia akhirnya kirim, pukul sebelas lewat dua puluh tiga — bukan dipikirkan. Dia hanya mengetik dan menekan tombol kirim sebelum tangannya sempat ragu.
Maafin gw.
Centang satu. Abu-abu. Diam.
Rara menatap layar selama dua menit. Centang satu tidak berubah jadi dua. Dia refresh. Tetap satu.
Dia membuka info kontak Galang. Foto profil hilang. Status terakhir terlihat: tidak ada.
Dia diblokir. Dia tahu itu sejak Desember — waktu dia coba telepon untuk minta maaf yang pertama. Sambungan langsung tutup. Sejak itu dia tidak coba lagi. Sampai malam ini.
Pesan itu tidak akan pernah Galang baca. Pesan itu sudah selesai sebelum sampai.
Rara menyalakan rokok. Dia jarang merokok, sebulan sekali, biasanya cuma kalau dia di balkon sendirian malam-malam. Sebungkus Dunhill Mild yang umurnya sudah hampir setahun di laci dapur.
Dia mengingat malam terakhir mereka di Senopati. Bukan di restoran — di mobil Galang, Avanza putih, di parkiran masjid Al-Azhar Kebayoran setelah mereka makan di Pasar Santa. Galang bilang sesuatu yang waktu itu Rara anggap lelucon. Sekarang dia ingat persis kalimatnya: “Gw capek, Ra. Kalau lo gak mau berubah, gak apa-apa. Tapi gw juga gak bisa nunggu terus.”
Rara, waktu itu, menjawab dengan, “Berubah gimana sih maksudmu? Gw ya gw.”
Galang tidak menjawab. Dia hanya menyalakan mobil dan mengantar Rara pulang.
Tiga hari kemudian, Galang mengirim “ok.” dan tidak pernah membalas lagi.
Sekarang, pukul dua belas kurang, Rara mengetik pesan kelima. Kali ini bukan untuk Galang.
Mas, besok gw ke kantor agak siang ya. Ada urusan pribadi.
Dia kirim ke atasannya. Centang dua, langsung. Manajernya online jam segini.
Dia menutup HP. Dia mematikan rokoknya. Dia masuk ke kamar.
Di laci nakas, ada satu foto polaroid yang dia simpan sejak 2022 — Galang dan dia di kafe Senopati yang sekarang sudah tutup. Rara mengambil foto itu, melihatnya tiga detik, lalu memasukkannya kembali ke laci.
Bukan dibuang. Hanya disimpan.
Besok dia akan ke kantor. Tidak siang-siang. Mungkin pukul setengah sembilan, seperti biasa. Mungkin dia akan kirim pesan susulan ke manajernya pagi-pagi: Mas, jadi ke kantor jam biasa. Sori semalam saya kepikiran.
Centang satu di chat Galang masih akan tetap centang satu. Selamanya. Dan itu, malam ini, sudah cukup.